Senin, 17 Oktober 2011

Perangkap Lalat Buah


Lalat Buah merupakan serangga perusak yang banyak menyerang buah-buahan dan sayuran seperti mangga, jambu biji, belimbing, melon, nangka, jambu air, tomat, Cabe dan lain-lain. Serangga ini terdapat hampir di seluruh kawasan Asia-Pasifik, dan terhitung menyerang lebih dari 26 jenis buah-buahan dan sayur-sayuran.

Penelitian menunjukkan terdapat lebih kurang 4.500 spesies lalat buah diseluruh dunia yang berasal dari famili Tephritidae yang menjadi perusak tanaman. Namun begitu, dari jumlah tersebut, terdapat 20 spesies dari gen Bactrocera adalah merupakan perusak utama pada buah-buahan dan sayuran di Asia.

Lalat buah bersimbiosis mutualisme dengan bakteria kerana apa bila lalat buah meletakkan telur pada buah, biasanya akan turut disertai dengan bakteria akan memungkinkan pembentukan kulat pada bagian yang terkena serangan yang akhirnya akan meyebabkan buah menjadi busuk dan daun sayuran rusak. Sebagian  buah dan daun sayuran  yang terkena serangan lalat buah ini akan menjadi, berulat dan busuk.

Seekor lalat betina mampu meletakkan telur pada buah sebanyak 1-10 butir dalam sehari ia mampu meletakkan telur hingga 40 butir. Telur kemudian menetas menjadi ulat dan akan merusakkan buah dan daun pada sayuran. Sepanjang hidupnya seekor lalat betina mampu bertelur sampai 800 butir.

Pengendalian Lalat Buah begitu sulit meski  dengan penggunaan racun serangga kerana ciri-ciri fisikalnya yang besar. Malahan penggunaan racun insektisida untuk melindungi buah dan sayuran seringkali tidak mendatangkan hasil yang diharapkan.

Oleh karena itu, satu cara memerangi serangan lalat buah ini adalah dengan mengurangi populasinya dan menghapuskan popolusi lalat buah di kawasan kebun atau tanaman. Cara yang terbaik dan efektif adalah dengan menghapus “lalat buah jantan”. Ini akan menyebabkan persenyawaan baru tidak akan terjadi diantara lalat jantan dan lalat betina yang menghasilkan telur, seterusnya larva dan anak lalat buah.

Cara menghapus populasi lalat buah jantan ini adalah dengan memasang perangkap yang dibuat dari botol bekas air mineral, bekas plastik dan sebagainya. Dengan meneteskan Cairan pemikat (lure) yang diteteskan pada gumpalan kapas yang diikat secara tergantung di dalam perangkap. Lalat buah jantan yang tertarik kepada aroma/bau cairan pemikat ini, akan masuk perangkap dan tidak bisa untuk mencari jalan keluar. Lalat buah jantan yang terperangkap di dalam perangkap ini kemudian akan mati dengan sendirinya atau boleh diletakkan sedikit air (yang tidak mengenai pada kapas) di dalam botol untuk mematikannya.

lalat buah

Diantara bahan-bahan pemikat Lalat buah yang biasa digunakan ialah Minyak Cemara Hantu (Melaleuca bracteata) dan Minyak Selasih (Ocimum sanctum) yang mengandungi bahan Metil Eugenol. Bahan ini mempunyai bau (aroma) yang sama seperti yang dikeluarkan oleh lalat buah betina untuk menarik perhatian lalat buah jantan untuk melakukan hubungan (Sex Pheromone).

Metil eugenol terdapat dalam berbagai jenis tumbuhan seperti  beberapa famili, seperti AnacardiaceaeAraceaeCaricaceaeLabiataeLiliaceae, dan Leguminosae.

Panduan Berkenaan Perangkap Lalat Buah adalah sebagai berikut:
1.     Jarak pemasangan perangkap antara satu perangkap ke perangkap lainya adalah 10 meter atau bisa disesuaikan dengan intensitas serangan.
2.     Perangkap digantung pada ketinggian 2-3 meter dari permukaan tanah.
3.     Air dan kapas pemikat hendaklah giganti pada setiap minggu supaya bau metil eugenol tidak terpengaruh dengan bau air.
Sumber: Heru Agus Hendra, Praktisi Hidroponik

Pilek Ayam (Infectious Coryza, Snot)



PENDAHULUANPenyakit pilek pada ayam dikenal sebagai penyakit influenza ayam, istilah nama yang lainnya adalah penyakit Infectious Coryza atau Snot. Organisme penyebabnya ditemukan pertama kali oleh Beach pada tahun 1920.
Sebenarnya penyakit ini agak jarang terjadi pada ayam kampung, tetapi sering menyerang ayam ras pada semua umur, terutama umur 14 minggu dan ayam dewasa.
Pilek ayam umumnya timbul di musim penghujan atau ada kaitannya dengan kondisi lingkungan kandang yang dingin dan lembab.

PENYEBAB BAKTERIPenyebab pilek ayam adalah bakteri Hemophilus gallinarum

PENULARAN
Melalui kontak langsung antara ayam sakit dengan ayam yang sehat dalam satu kandang.
Lewat udara.
Lewat peralatan kandang.
Makanan dan minuman yang tercemar bakteri Hemophillus gallinarum

Gejala Klinis
  • Pembengkakan dan busung pada muka dan mata.
  • Rongga hidung mengeluarkan lendir kental yang lengket dan berbau busuk.
  • Ayam bersin-bersin dan mengguncangkan kepala untuk mengeluarkan cairan hidung.
  • Kelopak matannya menjadi lengket.
  • Nanah pada mata berbau busuk yang dapat mengerak disekitar lubang hidung dan mengkeju disekitar lubang hidung dan sinus.
  • Getah radang dalam trachea dan bronchi dapat menghasilkan bunyi ngorok.
  • Nafsu makan dan minum menurun sehingga terjadi penurunan produksi.
  • Pernapasan cepat.
  • Sering kali dibarengi diare dan ayam dapat menjadi kerdil.
Perubahan Pascamati
  • Selaput lendir hidung dan sinus mengalami peradangan katar yang akut.
  • Peradangan katar selaput mata.
  • Busung bawah kulit pada muka dan tulang.
  • Radang paru dan radang kantung udara

Diagnosa
Contoh penyakit berupa tampon nanah dari hidung dan mata serta potongan jaringan dari alat pernapasan terutama batang tenggorok dan cabang tenggorok dikirimkan ke laboratorium dalam keadaan segar dingin untuk pengasingan dan identifikasi bakteri. Bahan pemeriksaan ini hendaknya diambil dari kejadian penyakit yang baru untuk menghindari pencemaran oleh bakteri sekunder.

Pencegahan
  • Ayam yang sakit pilek dipisahkan dari kandang (kelompok) ayam yang sehat.
  • Jangan mencampur ayam yang umurnya berbeda.
  • Kandang dan lingkungan harus selalu dalam keadaan bersih.
  • Usahakan dalam kandang terkena sinar matahari.
  • Perlakuan dalam Pemotongan
  • Ayam yang sakit pilek dapat dipotong dan dagingnya boleh dikonsumsi.
  • Bangkai ayam yang mati dan sisa pemotongan dibakar atau dikubur.

Pengobatan
Obat kimia yang bisa digunakan antara lain:
  • Sulfatiasol.
  • Sulfadimetoksin.
  • Streptomisin.
  • Sulfametasin.
  • Sulfamerasin.
  • Eritromisin.
  • Vibravet (soluble powder) dengan takaran 4 gram dicampur 1 liter air minum, iberikan 4-5 hari.
  • Ramuan jamu tradisional yang dapat digunakan:
  • Tepung beras padi 150 gram.
  • Kencur 100 gram, ditumbuk halus.
  • Jahe sebanyak 25 gram atau kurang lebih 1 jari tangan, diparut.
  • Bahan tersebut digilas dengan pipisan (lumpang) hingga halus dan tercampur merata.
  • Ramuan ini dibentuk pil sebesar biji jagung, lalu dijemur hingga kering.
Pil disuapkan dua kali sehari (pagi dan sore) mas

Pengelolaan Reproduksi Ternak Kambing


PEMILIHAN BIBIT
Induk betina berperan untuk melahikan anak. Calon induk sebaiknya dipilih dari ternak yang masih muda memiliki bentuk tubuh bagus dan berasal dari induk yang setiap kali beranak melahirkan lebih dari satu ekor.
Prilaku induk menunjukkan sifat keibuan dan menunjukkan kasih sayang dalam memelihara dan mengasuh anaknya.
Ciri-ciri induk yang bagus untuk dikembangkan adalah sebagai berikut :
- Bentuk kaki lurus
- Bulu halus tidak ada penyakit kulit.
- Mata jernih
- Bentuk ambing seimbang
- Jumlah puting dua
- Lebih bagus jika sudah bunting saat dibeli
Ciri-ciri pejantan yang bagus untuk dikembangkan adalah sebagai berikut :
- Bentuk alat kelamin berkembang sempurna
- Kaki lurus dan kuat
- Bentuk dada bidang
- Tumit kaki belakang tinggi
- Bulu halus tidak ada penyakit kulit

DEWASA KELAMIN
Dewasa kelamin merupakan masa munculnya gejala birahi pertama kali pada ternak jantan maupun betina.
Dewasa kelamin pada ternak jantan umur 6-8 bulan dan betina pada umur 8-12 bulan.

DEWASA TUBUH
Dewasa tubuh merupakan saat dimana ternak betina siap mengalami kebuntingan pertam kali dan pada ternak jantan sudah bisa menghasilkan keturunan.
Desawa tubuh ternak jantan pada umur 10-12 bulan, sedang ternak betina pada umur 12-15 bulan.
Kisaran bobot badan untuk dewasa tubuh adalah :
- Jantan 25 kg
- Betina 20 kg

BIRAHI
Tanda-tanda birahi ternak betina adalah:
- Sering mengibas-ibaskan ekornya-
- Geliasah, nafsu makan berkurang-
- Bibir kelamin luar membengkak, basah berlendir, dan berwarna kemerahan
- Suka menaiki temannya
Lama waktu birahi ternak betina : 1-2 hari. Siklus birahi/ munculnya birahi ternak betina setiap 19-20 hari.
PERKAWINAN
Syarat ternak dikawinkan :
- Sudah mengalami dewasa tubuh atau sudah berumur lebih dari 12 bulan atau telah mencapai beret badan ±25 kg untuk jantan dan ±20 kg untuk betina.
- Ternak betina sudah menampakkan tanda-tanda birahi.

KEBUNTINGAN
Kebuntingan pada ternak kambing berlangsung selama 150-152 hari atau ± 5 bulan.
Tanda-tanda kebuntingan pada ternak kambing adalah sebagai berikut :
- Tidak munculnya birahi pada siklus birahi berikutnya
- Lebih tenang dan menghindar jika dinaiki temannya
- Ambing tampak menurun dan nafsu makan bertambah
- Perut sebelah kanan terlihat membesar
- Bulu tampak lebih mengkilat (klimis)

KELAHIRAN
Ciri-ciri kambing melahirkan dan perlu mendapat perhatian peternak
Skema pengaturan perkawinan berdasarkan siklus birahi ternak kambing betina.
Perkiraan kelahiran 3 kali dalam 2 tahun
Perkiraan kelahiran 2 kali dalam setahun
PENANGANAN KELAHIRAN
Bersihkan alat dan daerah kelamin dengan sabun
Bersihkan tangan dan olesi dengan sabun sebagai pelumas
Masukkan tangan posisi menguncup kedalam alat kelamin
Pastikan posisi tubuh anak normal
Kalau tidak normal pindahkan ke posisi yang benar
Perawatan anak yang baru lahir

PENYAPIHAN
Dilakukan pada umur 2 bulan
Tetap diberi susu melalui botol/dot 3 kali sehari
Mulai diajari makan rumput
Dilakukan pada umur 2 bulan
Tetap diberi susu melalui botol/dot 3 kali sehari
Mulai diajari makan rumput

Pasca Panen Vanili


Untuk menghasilkan mutu vanili yang baik dan mempunyai harga jual yang tinggi maka perlu penanganan pasca panen yang baik. Penanganan pasca panen terdiri atas beberapa tahapan yang saling berkaitan dimana satu tahap kegiatan akan mempengaruhi hasil kegiatan ditahap berikutnya. Berikut diuraikan tahapan kegiatan pasca panen.

Sortasi buah basah bertujuan untuk memperoleh buah yang seragam ukuran, bentuk, dan tingkat kemasakan. Setelah disortasi buah dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan debu, getah dan kotoran lain yang menempel pada buah vanili lalu ditiriskan untuk mempercepat proses pengeringan karena buah sudah tidak mengandung air.

Penyortiran buah berdasarkan keseragaman ukuran, bentuk, tingkat kemasakan dan kedudukan buah pada tandan akan memberikan beberapa keuntungan, antara lain akan mempermudah pengawasan dan pelaksanaan dalam pengelompokan mutu (grading) pada akhir proses pengolahan nantinya, menghemat waktu dalam proses akhir dan akan menghasilkan buah vanili kering yang bermutu seragam.

Pelayuan bertujuan untuk mendorong proses bekerjanya enzim untuk pembentukan vanillin dan aroma serta mempermudah proses pengeringan.

Proses pelayuan dilakukan dengan mencelupkan buah vanili kedalam air panas selama 95 detik pada suhu 65 0 C. Proses pelayuan ini dilakukan untuk memberi jalan bekerjanya enzim pembentuk aroma(Enzims β-glukosidase dan peroksidase.

Kondisi ini akan memberikan kemungkinan lebih besar untuk mendorong pembentukan kadar vanillin cukup tinggi (2,4%), rendemen cukup tinggi (21-23%) warna lebih hitam dan aroma cukup baik.

Proses fermentasi bertujuan untuk memberikan kesempatan terjadinya proses enzimatis pada buah vanili untuk mendapatkan flavor dan aroma yang diinginkan.

Lama fermentasi sangat berpengaruh terhadap kadar vanilli olahan. Lama fermentasi 60 jam menunjukkan hasil vanillin terendah, sedangkan untuk memperoleh kadar vanillin yang lebih tinggi dapat dilakukan fermentasi selama 48 jam (dikombinasikan dengan lama pelayuan 95 detik pada suhu 65°C).

Pengeringan (drying) bertujuan untuk mengurangi kadar air sehingga buah vanilli tidak mudah terkena jamur terutama pada waktu penyimpanan dan pengangkutan. Tahap pengeringan ini bertujuan untuk mengurangi kadar air sampai batas tertentu (25-30%).

Pengeringan buah vanili dapat dilakukan dengan cara menggunakan oven, sinar matahari, atau dengan cara diangin-anginkan

Pengeringan dengan menggunakan oven merupakan cara pengeringan yang sangat baik untuk dilakukan. Keuntungan cara ini adalah dapat mempersingkat waktu pengeringan menjadi 1 minggu. Pengeringan dengan oven dilakukan dengan cara buah vanili dimasukan kedalam oven yang suhunya sudah diatur sekitar 45o C. Di dalam oven diletakan cawan-cawan yang berisi air untuk mempertahankan kelembaban ruang oven agar buah tidak terlalu cepat kering. Pengeringan dianggap selesai bila buah vanili sudah menunjukkan tanda tidak putus atau retak saat dililitkan pada jari, tetapi kembali utuh setelah dilepaskan..

Demikian tahapan kegiatan pasca panen vanili sebagai upaya untuk meningkatkan mutu vanili dan sekaligus dapat meningkatkan harga jual vanili di tingkat petani.

Budidaya Kantil




PENDAHULUAN
Tanaman kantil (Michelia alba) telah lama dkenal di Indonesia, termasuk pulau Jawa dan khususnya Jawa Tengah. Dewasa ini tanaman kantil telah banyak dibudidayakan walaupun hanya dengan cara tradisional. Hasil okok dari tanaman kantil adalah bunganya yang memiliki bau harum.
Bunga kantil banyak dimanfaatkan dalam berbagai acara, baik yang bersifat magis, ritual, religius, maupun acara biasa. Hal ini membudaya dikalangan masyarakat pedesaan maupun perkotaan. Bunga kantil dalam kehidupan sehari-hari telah menjadi suatu idola,terutama masyarakat Jawa Tengah.

JENIS BUNGA KANTIL
1. Kantil putih
2. Kantil kuning

SYARAT TUMBUH
Tanaman kantil dapat tumbuh dengan baik pada tanah-tanah kering, seperti ditegalan dan pekarangan, baik dataran rendah maupun dataran tinggi dengan elevasi 1.600 m dpl. Pertumbuhan tanaman kantil akan lebih baik bila mempunyai tipe iklim B (basah), tipe c (agak basah)dan tipe iklim D (kering). Dan sebaiknya tanaman kantil ditanam di tempat-tempat yang terbuka atau tidak terlindung oleh tanaman lain.
PENGADAAN BIBIT
Tanaman kantil dapat dikembangkan dengan cara generatif dan vegetatif. Dari kedua cara tersebut, cara vegetatif adalah yang paling mudah dan umum dilakukan oleh petani.
Pengadaan bibit kantil secara vegetatif dapat dilakukan dengan cangkok, stek dan

CARA TANAM
1. Cara bertanam kantil dalam pot
Pot diisi dengan tanah,pasir dan pupuk kandang, yang telah matang dengan perbandingan 1:1:1. Pot diisi media tanam secukupnya agar tidak tumpah sewaktu penanaman bibit kantil; kira-kira disisakan setinggi 15 cm. Sabut pembungkus bibit baik cangkokan maupun poly bag stek dilepas dengan hati-hati. Bibit ditanam dalam pot dan diletakkan ditempat yang teduh, untuk sementara waktu. Selanjutnya setiap satu tahun sekali 1/3 bagian tanah dalam pot diganti dengan tanah yang telah dicampur pupuk kandang.
2. Menanam kantil di pekarangan
Penanaman dilakukandengan membuat lubang tanam 50x50x50 cm. lubang diisi dengan perbandingan 3:1, kemudian bibit ditanam dan diberi ajir atau pagar.

PENYIRAMAN
Tanaman muda perlu penyiraman terutama dimusim kemarau,sedangkan pada tanaman dewasa tidak diperlukan penyiraman terkecuali terjadi tanda-tanda kekurangan air pada tanaman.
PEMUPUKAN
Waktu pemupukan yang baik, pada awal musim hujan dan menjelang musim kemarau. Pedoman pemberian pupuk adalah :

HAMA, PENYAKIT & PARASIT
Hama yang menyerang penggerek buah, ulat batik (Phyllocnites Sp), penggerek daun (Leaf blotch miners),ulat daun (Papilo memron), kumbang,walang sangit (Leptocorisa acuta),semut dan kutu dan. Penyakit bercak coklat,dan parasit benalu.

PANEN
Tanaman kantil dapat dipanen setelah menghasilkan bunga ± 1 tahun. Cara panen yaitu memetik dengan tangan atau dapat pula menggunakan galah. Waktu pemetikan disesuaikan dengan keadaan pasar.

PEMASARAN
Pemasaran dapat dilakukan di rumah, di pasar atau di tepi jalan.

Penyakit Padi dan Penanggulangannya


Penyakit merupakan suatu kondisi tidak normal yang menyebabkan fungsi tanaman terganggu. Adanya penyakit dapat diketahui dari gejala yang dialami tanaman. Beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman padi, diantaranya bercak coklat, blast, hawar daun bakter, dan tungro.

1.     Bercak Cokelat
Penyebabnya adalah cendawan helminthosporium oryzae. Cendawan ini sering menyerang tanah yang kurang subur atau tanah beririgasi kurang baik. Gejala serangan antara lain timbulnya bercak-bercak cokelat seperti biji wijen terutama pada daun, tetapi dapat pula terjadi pada tangkai malai, bulir, dan batang. Bercak muda berbentuk bulat kecil, berwarna coklat gelap. Bercak yang sudah tua berukuran lebih besar (0,4-1 cm X 0,1-0,2 cm), berwarna coklat dengan pusat kelabu. Kebanyakan bercak mempunyai warna kuning di sekelilingnya. Serangan ini bisa mengakibatkan hilangnya hasil panen sampai 50% dan biji berkualitas rendah.

Pengendalian penyakit ini dengan cara memprbaiki kesuburan tanah, yaitu dengan memberikan pupuk kandang atau kompos. Sebab tanah yang subur tidak akan mudah diserang cendawan tersebut. Tanam varietas yang tahan. Gunakan benih yang sehat atau beri perlakuan fungisida atau air panas pada benih. Pupuk yang seimbang terutama K yang cukup. Sanitasi lapang. Pengolahan tanah yang cukup, pengairan dan drainase yang baik sehingga akar tumbuh dengan baik. Penyemprotan fungisida dilakukan pada masa anakan maksimum.

2.     Blast
Blast menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan yang disebabkan oleh cendawan pyricularia oryzae. Faktor pemicunya adalah terlalu banyak menggunakan pupuk yang mengandung unsur N serta curah hujan dan kelembaban tinggi. Gejalanya adalah adanya bercak seprti mata pada daun padi atau berbentuk belah ketupat, lebar ditengah dan kedua ujung meruncing. Selain pada daun, infeksi juga menyerang ruas batang dan leher malai.

Pengendalian serangan penyakit ini dilakukan dengan cara menggunakan varietas yang tahan secara bergantian, menghindari penggunaan pupuk yang mengandung unsur N terlalu banyak, waktu tanam harus tepat agar saat pembungaan tidak banyak embun atau hujan, atau melakukan penyemprotan dengan fungisida secara berkala.

3.     Hawar Daun Bakteri
Hawar daun bakteri (HDB) adalah salah satu penyakit yang dapat menyebabkan pertanaman padi mengalami puso. Penyakit ini disebabkan oleh bakterixanthomonas oryzae pv. oryzae yang dapat menginfeksi tanaman mulai dari pembibitan sampai panen. Ada dua macam gejala penyakit HDB. Gejala yang muncul pada saat tanaman berumur kurang dari 30 hari setelah tanam, yaitu pada persemaian atau tanaman yang baru dipindah ke lapang, disebut kresek. Gejala yang timbul pada fase anakan sampai pemasakan disebut hawar (blight). Secara spesifik tanda-tanda tanaman terserang adalah timbulnya bercak berwarna kuning sampai putih, berawal dari terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi daun. Bercak bisa mulai dari salah satu atau kedua tepi daun yang rusak dan berkembang hingga menutupi seluruh helaian daun. Apabila infeksi melalui akar atau pangkal batang, tanaman terlihat kering seperti terbakar.

Pengendalian penyakit ini seyogyanya dilakukan dengan penggunaan varietas yang memiliki ketahanan lebih dari satu gen ketahanan (polygenic resisstant), menanam varietas yang berbeda dalam satu hamparan, pastikan jerami dari tanaman sakit sudah terdekomposisi sempurna sebelum pindah tanam, hindari pemupukan N yang berlebihan, dan jarak tanam jangan terlalu rapat.

4.     Tungro
Tungro adalah penyakit padi yang disebabkan virus tungro yang dibawa oleh wereng. Serangan penyakit ini mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi.

Bila serangan terjadi pada saat tanaman masih muda, sekitar umur 10-20 hari, akan menyebabkan kehilangan hasil sedikitnya 65%. Sedangkan untuk serangan saat tanaman berada pada fase akhir, kehilangan hasil tidak terlalu besar, yaitu sekitar 10-20%.

Pengendaliannya dengan cara memberantas berbagai jenis rumput liar yang merupakan sumber infeksi bagi penyakit ini, rotasi tanaman dengan palawija, menanam varietas yang tahan tungro, pembajakan di bawah sisa tunggul yang terinfeksi, cabut dan bakar tanaman yang sakit, dan tanam dengan menggunakan sistem tabela atau SRI.

Pestisida organik untuk menanggulangi penyakit padi
Ramuan yang pertama menggunakan tembakau, cabe rawit, dan bawang merah masing-masing 1 kg, serta kapur dan belerang 1 ons. Semua bahan digiling atau ditumbuk menjadi satu hingga halus, kemudian tambahkan air sebanyak 1/10 (sepersepuluh) dari jumlah bahan dan aduk-aduk sampai tercampur merata. Setelah didiamkan selama 12 jam, peras dan saring. Cairan siap untuk digunakan.

Dalam pengaplikasiannya pestisida tersebut disemprotkan ke tanaman yang terserang dengan dosis 4 cc/liter air. Untuk pencegahan lakukan setiap 5-7 hari sekali, sedangkan untuk penanggulangan tiga hari sekali.

Yang kedua menggunakan formula tunggal, yaitu dengan urin sapi. Sebelum digunakan urin harus diendapkan terlebih dahulu dalam wadah terbuka selama dua minggu agar terkena sinar matahari. Setelah itu, urin diencerkan dengan enam bagian air. Baru, campuran larutan disemprotkan.

Terakhir, ramuan dibuat dari daun mimba, tembakau, dan kunyit masing-masing 1 gengam, urin sapi 2 liter, dan air 12 liter. Daun mimba, tembakau dan kunyit dihaluskan, lalu direndam dengan air. Setelah 14 hari disaring. Air hasil saringan dicampur dengan urin sapi yang telah diendapkan selama 14 hari juga. Semprotkan campuran tersebut ke tanaman yang terserang, tanpa harus diencerkan lagi.

Bertani Itu Menyehatkan


pertanian organik yang cuma sepetak itu. hijau kan?

Bertani menyehatkan? Ya, pengalaman saya bertani itu bisa menyehatkan jiwa, lingkungan, dan juga tubuh kita.

Sore tadi saya panen. Sawah seluas satu petak hasil menyewa saat ini telah membuahkan hasil. Ini kali ke empat saya menikmati masa panen. Maklum saya menyewa sawah terhitung baru, baru satu tahun.

Awal saya tertarik bertani ketika saudara sepupu saya bilang, jika bertani itu banyak barakahnya. Setidaknya, kata saudara saya itu, 1 tahun saya tidak perlu repot membeli beras. Saya paling cuma mengeluarkan uang untuk beli lauknya. Beras hasul satu tahun itu tidak hanya cukup untuk dimakan, tapi juga dengan segala “keperluan lainnya”. Misalnya, melayat sama orang meninggal, ke undangan perkawinan, dsb.

Di desa saya memang tradisinya begitu. Kemana-mana ketika “ke undangan” atau melayat, orang di kampung saya biasa bawa beras. Normal yang dibawa juga tidak banyak, sekitar 4 kg. Makanya, hasil panen biasanya disimpan oleh petani. Kecuali kalau sudah sangat mendesak, baru dijual.

Bertani Menyehatkan Jiwa

Karena kesibukan saya jarang pergi ke sawah untuk melihat tanaman padi saya. Suatu hari, ketika saya pergi sawah menjaga burung pemakan padi, teman saya yang PNS bilang bahwa bertani itu menyehatkan jiwa. Dia bilang, bertani itu terapi. Kebetulan teman saya ini juga nyambi bertani.

Terapi? Ya, terapi kesehatan jiwa. Bayangkan, setiap kali ke sawah kita bisa melihat perkembangan tanaman. Setiap kali ada perkembangan, kebahagian tiba-tiba menyeruak dalam hati. Sungguh nikmat. Misalnya saja, saat baru menanam nampak tanaman masih menguning seperti kurang sehat. Tapi seminggu saja sudah berubah menjadi hijau. Makin lama, makin gagah dengan bulir-bulir buah. Terus hingga akhirnya sampai pada musim panen. Nah di setiap perkembangan itulah nampak sekali kepuasan batin melihat tanaman kita. Mulai sejak ditanam hingga panen.

Bagaimana jika gagal? Bagi saya juga menyehatkan. Saya melihat kesabaran petani sangat luar biasa menghadapi musibah. Kesabaran itu membuahkan kecerdasan hati. Kecerdasan hati ini yang selalu menjaga hubungan petani dengan Tuhan. Mengadukan segala permasalahannya kepada-Nya. Bisa dilihat, meski sering mendapat musibah gagal panen, atau harga jatuh saat panen, sangat jarang petani yang stress. Mereka tangguh. Setangguh baja. Mengatakan seperti ini, tidak berarti saya setuju pada segala bentuk penindasan kepada petani.

Bertani Menyehatkan Lingkungan dan Tubuh

Terus terang ketika bertani saya tidak sekedar mengharapkan hasil, meski ini tentu yang utama. Tetapi ada alasan lain kenapa saya bertani . Ceritanya begini :

Saya juga meniatinya untuk ikut menjaga lingkungan. Karena pertanian saya menggunakan pupuk organic. Awalnya begini, ketika petani sering menghadapi kesulitan pupuk kimia, saya mengundang teman akrab yang tahu banyak tentang pertanian organic, ke kelompok pengajian RT yang juga saya ikuti. Teman saya ini saya minta untuk mengkampenyakan pentingnya petani kembali lagi ke alam. Di samping ongkos produksi nantinya lebih murah, kebetulan bahan-bahan pupuk organi sudah tersedia.

Alhamdulillah ada dua anggota pengajian RT yang tertarik belajar membuat pupuk organic. Ketika membuat teman saya ini yang jadi mentornya. Bahkan teman saya ikut membantu sejak dari proses awal hingga selesai. Sayang dua anggota pengajian ini tidak mampu bertahan. Karena lebih praktis mereka pindah lagi ke pupuk kimia. Pada hal saya berharap banyak sama dua orang ini. Jika berhasil, pasti anggota pengajian yang lain juga ikut.

Karena sudah gagal, akhirnya saya bilang sama teman saya, “saya akan menyewa sawah meski hanya sepetak. Gimana kalau tanah ini kita jadikan demplot pertanian organic?”. Teman saya senang dan setuju. Jadilah saya menyewa tanah, dan atas bantuan teman mulailah saya bertani dengan pola organic. Pertanian ini saya maksudkan untuk dijadikan contoh bahwa pertanian organic akan lebih bagus hasilnya.

Terus terang sampai musim tanam ketiga sejak menyewa, tak ada warga desa saya yang mengapresiasi. Bahkan di musim tanam yang ke empat saat ini, tetangga saya bahkan sering menyuruh saya agar dicampur kembali menjadi fifty-fifty dengan pupuk kimia. Saya tak bergeming.

Bahkan ada teman saya yang lebih ekstrem lagi, “situ kan baru jadi petani? Saya sudah lama, jadi soal bertani sebaiknya belajar sama yang sudah lama”, katanya suatu ketika saat dia melihat sawah saya tidak sehijau sawah yang menggunakan pupuk kimia.

Ketika kemarin sawah saya dipanen, syukur alhamudulillah, hasilnya ternyata lebih baik dari sawah lain. Hasil produksinya lebih banyak, bulirannya lebih berat, di samping yang sangat nyata, ongkos produksinya juga lebih murah.

Saat ada pertemuan mingguan RT tadi malam, jamaah pengajian RT sudah mengakui bahwa pupuk organic ternyata tak kalah dari pupuk kimia. Meski saya sadar merubah kebiasaan bukan sesuatu yang gampang, tapi pengakuan itu sudah menjadikan saya optimis, cita-cita saya dan teman saya, suatu waktu warga desa saya akan beralih ke organic.

Dengan pola pertanian organic, saya merasakan kebahagian tak terkira. Melihat hasil pertanian sejak mulai ditanam, (makin) membesar, dan akhirnya panen terapi itu sudah bekerja dalam hidup saya. Saya bahagia.

Dengan pola pertanian organic, saya juga ikut mengurangi dampak iklim global meski melalui tindakan kecil seperti ini. Dan terakhir, melalui hasil pertanian organic saya ikut juga menyehatkan tubung dari ganasnya hasil pertanian kimia. Dan asal tahu saja, ada tetangga yang sudah memesan untuk membeli hasil pertanian saya, jika saya mau menjualnya.

Nah, ingin sehat jiwa, lingkungan, dan tubuh? Ayo bertani, tentu dengan pola organik.


oleh : A. Dardiri Zubairi