Kamis, 17 Maret 2011

Kiat Sukses Pembenihan ikan Tawes


Penyediaan benih yang bermutu dalam jumlah cukup dan kontinyu merupakan faktor penting dalam upaya pengembangan budidaya ikan untuk konsumsi.

Usaha pembenihan banyak dilakukan di Kabupaten Magelang, seperti di Desa Paremono Kecamatan Mungkid oleh karena didukung ketersediaan air cukup baik musim kemarau maupun penghujan. Disamping itu usaha pembenihan dirasa lebih rnenguntungkan karena waktu yang digunakan relatif singkat kurang lebih 3 minggu - 1 bulan, serta pemasarannya pun mudah.

pembenihan ikan tawes ada beberapa cara yaitu pembenihan ikan di kolam, pembenihan di sawah dan pembenihan di hapa. Berikut adalah teknik pembenihannya:

1. Pemilihan induk
➢ Untuk mendapatkan benih yang berkualitas dan jumlah yang banyak dalam pembenihan Tawes perlu dipilih induk yang baik dengan ciri-ciri:

a. Letak lubang dubur terletak relatif lebih dekat ke pangkal ekor.
b. Kepala relatif lebih kecil dan meruncing.
c. Sisik-sisiknya besar dan teratur.
d. Pangkal ekor lebar dan kokoh.

➢ Pada umumnya ikan tawes jantan mulai dipijahkan pada umur kurang lebih 1 tahun, dan induk tawes betina pada umur kurang lebih 1,5 tahun. Untuk mengetahui bahwa induk ikan tawes telah matang kelamin dan siap untuk dipijahkan dengan tandatanda sebagai berikut:


a. Induk betina
- Perutnya mengembang kearah genetal (pelepasan) bila dirabalebih lembek.
- Lubang dubur berwarna agak kemerah-merahan.
- Tutup insang bila diraba lebih licin.
- Bila perut diurut dari arah kepala ke anus akan keluar cairan kehitam-hitaman.

b. Induk jantan
Bila perut diurut dari arah kepala ke anus akan keluar cairan berwarna keputih-putihan (sperma).

Tutup insang bila diraba terasa kasar.
- Bila perut diurut dari arah kepala ke anus akan keluar cairan berwarna keputih-putihan (sperma).
- Tutup insang bila diraba terasa kasar.


2. Persiapan Kolam

Kolam pemijahan ikan tawes sekaligus merupakan kolam penetasan dan kolam pendederan. Sebelum dipergunakan untuk pemijahan, kolam dikeringkan.
Perbaikan pematang dan dasar kolam dibuat saluran memanjang (caren/kamalir) dari pemasukan air kearah pengeluaran air dengan lebar 40 cm dan dalamnya 20-30 cm.


3. Pelepasan Induk
➢ Induk ikan tawes yang telah terpilih untuk dipijahkan kemudian diberok, pemberokan dengan penempatan induk jantan dan betina secara terpisah selama 4-5 hari.
Setelah diberok kemudian induk ikan dimasukkan ke kolam pemijahan yang telah dipersiapkan.


➢ Pemasukan induk ke kolam pada saat air mencapai kurang lebih 20 cm.
➢ Jumlah induk yang dilepas induk betina 25 ekor dan induk jantan 50 ekor.
➢ Pada sore hari kurang lebih pukul 16.00 air yang masuk ke kolam diperbesar sehingga aliran air lebih deras.
➢ Biasanya induk ikan tawes memijah pada pukul 19.00-22.00.
➢ Induk yang akan memijah biasanya pada slang hari sudah mulai berkejar-kejaran di sekitar tempat pemasukan air.


4. Penetasan Telur

➢ Setelah induk ikan tawes bertelur, air yang masuk ke kolam diperkecil agar telur-telur tidak terbawa arus, penetasan dilakukan di kolam pemijahan juga.
➢ Pagi hari diperiksa bila ada telur-telur yang menumpuk di sekitar kolam atau bagian lahan yang dangkal disebarkan dengan mengayun-ayunkan sapu lidi di dasar kolam.
➢ Telur ikan tawes biasanya menetas semua setelah 2-3 hari.
➢ Dari ikan hasil penetasan dipelihara di kolam tersebut selama kurang lebih 21 hari.

5. Pemungutan Hasil Benih Ikan
➢ Panen dilakukan pada pagi hari.
➢ Menyurutkan/mengeringkan kolam.
➢ Setelah benih berada dikamalir/dicaren, benih ditangkap dengan menggunakan waring atau seser.
➢ Benih ditampung di hapa yang telah ditempatkan di saluran air mengalir dengan aliran air tidak deras.
➢ Benih lersebut selanjutnya dipelihara lagi di kolam pendederan atau dijual.


6. Pendederan
➢ Mula-mula kolam dikeringkan selama 2-3 hari.
➢ Perbaikan pematang, pembuatan caren/saluran.
➢ Dasar kolam diolah dicangkul, kemudian dipupuk dengan Urea & SP 36 10 gr/m2 dan pupuk kandang 1-1,5 kg/m2 tergantung kesuburannya.
➢ Setelah kolam dipupuk kemudian diairi setinggi 2-3 cm dan dibiarkan 2-3 hari kemudian air kolam ditambah sedikit demi sedikit sampai kedalaman 50 cm.
➢ Kemudian benih ditebar di kolam pendederan dengan padat tebar 10-20 ekor/m2.
➢ Pemeliharaan dilakukan kurang lebih 3 minggu - 1 bulan.
➢ Selanjutnya dapat dipanen dan hasil benih dapat dijual atau ditebar lagi di kolam pendederan II.

sumber : Bambang Sunarno, IN AzNa Books, 2010

TIPS SUKSES BETERNAK LELE

A. TIPS BETERNAK
Untuk memulai usaha beternak lele sebenarnya bukanlah hal yang sulit kalau kita sudah mengetahui metodenya untuk mendapatkan metodenya tentu kita harus bertanya pada orang yang sudah berhasil beternak lele, tapi yang harus kita ingat jarang sekali orang mau memberikan ilmunya pada orang lain apalagi semua ilmu yang dimilikinya disini saya berikan cara beternak lele dan metodenya pada anda.


Untuk pertama anda buat 1 kolam, sebaiknya kolam tanah dengan digali karena kolam yang bagus untuk lele adalah kolam tanah kalau tidak ada lahan apa boleh buat silahkan dengan kolam permanen tapi bibit yang di pakai bibit ukuran telunjuk, beda dengan kolam tanah dapat di mulai dengan bibit halus umur 2 minggu.

Setelah kolam selesai, diamkan dengan air selama 1 minggu kemudian masukkan bibit tergantung ukuran kolam kalau ukuran 5 x 10 x 0.70 meter dapat di isi bibit 10.000 ekor ingat waktu melepaskan bibit tentunya anda menggunakan kantong plastik atau gerigen supaya ikan jangan strees kantong plastik yg berisi ikan di isi air kolam pemeliharaan sedikit demi sedikit sampai ikan menyesuaikan diri dengan air kolam yang baru kemudian lepaskan ikan ,biarkan ikan keluar dengan sendirinya dari kantong plastik/ gerigen.

Setelah ikan berumur 2 minggu dalam kolam pisahkan antara ikan kecil dan ikan yang besar karena lele bersifat kanibal sebaiknya lele, di pelihara dalam wareng untuk memudahkan menyortir ikan buat 2 wareng atau jala ikan ukuran 2 x 6 dua petak letakkan dalam kolam untuk memelihara ikan sampai panen isi wareng pertama 10.000 ekor kemudian pada umur 2 minggu pindahkan yang besar ke wareng yang satu lagi karena dalam 1 wareng ukuran 2 x 6 x 0.7 meter dapat memuat 5000 ekor bibit ikan sampai panen selain itu dapat juga memudahkan panen ikan.

sumber : Bambang Sunarno, In AzNa Books, 2010

Solusi Bercocok Tanam Tanpa Sinar Matahari Atau Tanah = Aerofarm

















AeroFarms telah mengembangkan sistem aeroponik lanjutan yang terbukti menumbuhkan tumbuhan tanpa tanah atau matahari, sepanjang tahun dan di lokasi manapun. Sistem secara vertikal stackable dan sangat cocok untuk bangunan gudang-tipe lama atau kosong, yang berlimpah di perkotaan. Sistem memiliki pencahayaan 24/7 yang mengontrol, suhu, dan kelembaban, mempercepat siklus pertumbuhan 35-70 hari menjadi 18-21 hari. Sementara teknologi aeroponic merupakan inti dari sistem, perkembangan kepemilikan media tumbuh, pencahayaan dan desain mekanik semua terpisahkan dalam membuat sistem AeroFarms unggul.

• Aeroponik
Aeroponik adalah jenis cutting-edge teknologi hidroponik yang menumbuhkan tanaman dalam kabut. Kabut aeroponic paling efisien menyediakan akar dengan hidrasi, nutrisi dan oksigen yang diperlukan. AeroFarms telah merancang sistem untuk menghilangkan penyumbatan nosel dan mengurangi konsumsi air melalui nutrisi-sirkulasi kembali.


















• Kain
AeroFarms 'telah mengembangkan media, kain proprietary yang dapat digunakan kembali. Sistem AeroFarms menggunakan kain sebagai ban berjalan yang bergerak dari satu ujung tanaman sistem di mana mereka diunggulkan ke ujung lain di mana mereka dipanen. Kain tersebut memiliki sejumlah manfaat seperti daya tahan dan dapat digunakan kembali, peningkatan kebersihan dan sanitasi, dan panen yang efisien dari produk kering dan bersih.





















• Lampu LED putih.

AeroFarms adalah perintis penggunaan LED (light emitting diode) untuk sistem pencahayaan tumbuhan komersial. Ada potensi besar untuk penggunaan LED di seluruh pengurangan biaya dan peningkatan hasil. LED memiliki 10 kali harapan hidup lebih besar daripada lampu HPS, menghasilkan biaya total kepemilikan yang lebih rendah. LED juga dapat dirancang dalam bentuk linier dan persegi panjang yang memungkinkan keseragaman hasil lengkap, dibandingkan dengan bola lampu HPS yang tidak merata mendistribusikan cahaya untuk tanaman. Keuntungan lain dari LED adalah kemampuan untuk menargetkan panjang gelombang cahaya tertentu, memungkinkan untuk mengurangi konsumsi energi dan peningkatan gizi. Terakhir, LED dapat ditempatkan lebih dekat dengan tanaman dari lampu HPS, memungkinkan lebih besar vertikal tumpukan-kemampuan modul.

• Manajemen Hama Terpadu
Bertumbuh dalam sebuah struktur bangunan standar merubah tekanan terhadap hama dan lingkungan hama. Tanaman tumbuh di mesin di dalam bangunan dan tidak keluar di tempat terbuka di mana mereka menarik hama. Media kain tumbuh dibersihkan antara setiap siklus pertumbuhan 18-21 hari. Sebagian besar siklus hama lebih dari 21 hari yang merusak. Banyak aspek lain dari desain tetap termasuk cara untuk meminimalkan paparan hama dan reproduksi. Dengan desain AeroFarms tahan hama, pestisida tidak diperlukan. Tidak ada bibit khusus yang dibutuhkan, jadi bebas pestisida dan benih organik dapat digunakan.

• Modularity
Ukuran dan konfigurasi sistem AeroFarms sangat disesuaikan. Sistem terdiri dari modul, yang berfungsi sebagai blok bangunan suatu sistem yang dapat ditumpuk secara vertikal atau terpasang memanjang. Pendekatan modular memungkinkan fleksibilitas lokasi, hasil yang lebih tinggi per kaki persegi, dan waktu instalasi lebih cepat.

















Lalu bagaimana dengan biayanya? Untuk kota dengan penduduk 30.000 jiwa dibutuhkan dana sebesar $8 juta, hmmm...masih mahal

Sumber :
Green Prophet

Minggu, 13 Maret 2011

Sejarah dan Asal-usul ikan nila

Nila pertama kali didatangkan dariTaiwan ke Bogor (Balai Penelitian Perikanan AirTawar) pada tahun 1969. Setahun kemudian, ikan ini mulai ditebarkan ke beberapa daerah. Pemberian nama nila berdasarkan ketetapan Direktur Jenderal Perikanan pada tahun 1972. Nama tersebut diambil dari narna species ikan ini, yakni nilotica yang kemudian diubah menjadi . Nama nilotica menunjukan daerah asal ikan ini, yaitu sungai

Secara alami ikan ini melakukan migrasi dari habitat aslinya di sungai Nil di Uganda (bagian hulu Sungai Nil) kw arah selatan melewati Danau Raft dan Tanganyika hingga ke Mesir (sepanjang Sungai Nil). Nila juga terdapat di Afrika bagian tengah dan barat. Populasi terbanyak ditemukan di kolam-kolam ikan di Chad dan Nigeria. Dengan campur tangan manusia, saat ini nila telah menyebar ke seluruh dunia mulai dari Benua Afrika, Amerika, Eropa, Asia, dan Australia.
Klasifikasi
Awalnya, nila dimasukkan ke dalam jenis Tilapia nilotica atau ikan dari golongan tilapia yang tidak mengerami telur dan larva di dalam mulut induknya. Dalam perkembangannya, para pakar perikanan menggolongkannya ke dalam jenis Sorotherodon niloticus atau kelompok ikan tilapia yang mengerami telur dan larvanya di dalam mulut induk jantan dan betina. Akhirnya, diketahui bahwa yang mengerami telur¬ dan larva di dalam mulut hanya induk betinanya. Para pakar perikanan kemudian memutuskan bahwa nama ilmiah yang tepat untuk ikan ini adalah Oreochromis niloticus atau Oreochromis sp. Berikut ini klasifikasi nila selengkapnya.

Filum: Chordata
Subfilum: Vertebrata
Kelas: Pisces
Subkelas: Acanthopterigii
Ordo: Perciformes
Familia: Cichlidae
Genus: Oreochromis
Spesies: Oreochromis niloticus
Nama Asing: nile tilapia
Nama Lokal: nila

Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, Agromedia Pustaka, 2008

Jumat, 11 Maret 2011

Kebiasaan Makan dan Laju Pertumbuhan ikan Nila

Nila tergolong ikan pemakan segala (omnivora) sehingga bisa mengonsumsi pakan berupa hewan atau tumbuhan. Karena itu, ikan ini sangat mudah dibudidayakan. Ketika masih benih, pakan yang disukainya adalah zooplankton (plankton hewani), seperti Rotifera sp., Moina sp.,

Atau Daphnia sp. Selain itu benih nila juga memakan alga atau lumut yang menempel di bebatuan yang ada di habitat hidupnya. Ketika dibudidayakan, nila juga memakan tanaman air yang tumbuh di kolam budidaya. Jika telah mencapai ukuran dewasa, ikan ini bisa diberi berbagai pakan tambahan seperti pelet.

Laju pertumbuhan tubuh nila yang dibudidayakan tergantung dari pengaruh fisika dan kimia perairan dan interaksinya. Sebagai contoh,

Curah hujan yang tinggi akan mengganggu pertumbuhan tanaman air dan secara tidak langsung akan memengaruhi pertumbuhan nila yang dipelihara . Berdasarkan hasil penelitian, diketahui laju pertumbuhan nila lebih cepat jika dipelihara di kolam yang airnya dangkal dibandingkan dengan kolam yang airnya dalam. Penyebabnya adalah pertumbuhan tanaman air sangat cepat di perairan yang dangkal, sehingga nila mendapatkan pasokan pakan yang cukup.

Selain itu, laju pertumbuhan nila di kolam yang dipupuk dengan pupuk organik misalnya kotoran ternak juga. lebih cepat dibandingkan dengan nila yang dipelihara di kolam yang dipupuk dengan pupuk anorganik (pupuk buatan).

perlu diketahui juga, laju pertumbuhan nila jantan lebih cepat 40% dibandingkan dengan laju nila betina.Terlebih lagi jika dipelihara secara kelamin tunggal (monosex). jika sudah mencapai ukuran 200 gram, pertumbuhan nila menjadi semakin lambat. Namun, hal ini hanya terjadi pada nila betina, sedangkan nila jantan akan tetap tumbuh pesat.

Sumber : Khairul Amri, S.pi, M.Si dan Khairuman, S.P. Agromedia Pustaka, 2008

perbedaan Nila Biasa (nila lokal) dengan Nila GIFT

Jenis - jenis Nila

Ada banyak jenis nila. Sebagian besar banyak ditemukan di perairan timur Afrika dan sebagian lain tersebar di berbagai negara. Dari berbagai jenis nila yang ada, tiga jenis di antaranya merupakan nila yang produktif dan banyak dibudidayakan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketiga jenis nila tersebut adalah nila lokal, nila gift, dan nila merah. Jenis lain yang tergolong nila varietas baru adalah nilaTA. Berikut ini pemaparan lengkap berbagai jenis nila.

I. Nila Biasa (Lokal)
Nila biasa merupakan jenis nila yang pertama Kali didatangkan dari Taiwan ke Indonesia. Setelah melalui serangkaian uji coba nila ini disebarluaskan ke masyarakat dan dalam waktu singkat sudah menyebar ke seluruh pelosok tanah air.
Begitu akrabnya masyarakat kita dengan nila jenis ini, tidak mengherankan jika ada yang menyebutnya dengan nama nila lokal. jenis nila inilah yang pertama kali disebut sebagai "nila" dan namanya ditetapkan oleh Direktur jenderal Perikanan pada tahun 1972 julukan sebagai nila biasa atau lokal ditujukan untuk membedakannya dengan jenis nila merah dan nila gift yang merupakan pendatang baru.

Nila lokal memiliki warna tubuh abu-abu atau hitam, terutama di tubuh bagian atas.Tubuh bagian bawah (perut dan dada) berwarna agak putih kehitaman atau kekuningan. AwaInya, nila lokal memiliki laju pertumbuhan yang cukup baik, tetapi akhir-akhir ini kualitasnya menurun akibat keterbatasan pengetahuan masyarakat dalam mengendalikan potensi genetisnya Akibatnya, kualitas genetis keturunannya pun ikut menurun. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan laju pertumbuhan dan ukuran tubuh. Malah tidak jarang terjadi perkawinan silang antara nila dan mujair sehingga keturunan berikutnya memiliki kualitas genetis yang tidak menguntungkan.


2. Nila Gift
Nila gift (genetic improvement of farmed tilopias) merupakan hasil persilangan dan seleksi jenis-jenis nila dari Taiwan, Mesir, Thailand, Ghana, Singapura, Israel, Senegal, dan Kenya. jenis ini dikembangkan pertama kali oleh International Center for Living Aquatic Research Management (ICLARM) di Filipina pada tahun 1987. Program tersebut dibiayai oleh Asian Development Bank (ADB) dan United Nations Development Programme (UNDP).

Nila gift didatangkan ke Indonesia pada tahun 1994 melalui Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balitkanwar) yang merupakan salah satu anggota. International Network for Genetic in Aquaculture (INCA). Nila gift yang pertama kali didatangkan ke Indonesia tersebut merupakan generasi keempat. Setelah itu, didatangkan lagi nila gift berikutnya yang berasal dari generasi keenam pada tahun 1997.
Sepintas, sosok nila Gift dan nila lokal agak sulit dibedakan, terutama ketika masih dalam stadium benih. Perbedaannya hanya bisa diketahui dari bentuk proporsi dan warna tubuh. Tubuh nila gift lebih pendek

dengan perbandingan panjang dan tinggi 2 : I, sedangkan perbandingan panjang dan tinggi tubuh nila lokal 2,5 : 1. Dari segi tinggi dan lebar tubuh, nila gift tampak lebih tebal dengan perbandingan 4 : 1 dan nila local tampak lebih tipis dengan perbandingan 3: 1. Sementara itu, ukuran kepala nila gift relatif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran kepala nila lokal. Namun ukuran mata nila gift cukup besar jika dibandingkan dengan
ukuran mata nila lokal. Ciri lain yang membedakan antara nila gift dan nila lokal adalah warna tubuh. Warna tubuh nila gift hitam keputihan dan bagian bawah tutup insangnya berwarna putih, sedangkan nila lokal
berwarna putih. Sementara kehitaman dan ada yang berwarna kuning.
jika dibandingkan dengan nila lokal, nila gift memiliki beberapa
Berat komparatif sebagai berikut.

- Jumlah telurnya lebih banyak 20-30%
- Berat benihnya mencapai 17,5 gram dan pertumbuhannya lebih cepat 300-400%.
- Pertumbuhan saat pembesaran lebih cepat 100-200% dengan konversi pakan rendah, yaitu berkisar 0,8-1,2.
- tahan terhadap lingkungan yang kurang baik dan memiliki toleransi hidup di perairan dengan salinitas 0-15%0, sehingga bisa dipelihara di perairan payau.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008

Kamis, 10 Maret 2011

Istilah-istilah pada ikan gurame dan pada benih ikan gurame

berdasarkan SNI (Standar Nasional Indonesia)

a. Larva adalah fase gurami sejak menetas hingga kuning telur habis dan mulai memperoleh makanan dari lingkungannya serta memiliki bentuk yang berbeda dengan ikan dewasa berumur 10— 12 hari.

b. Induk Pokok (Parent Stock, PS) adalah ikan keturunan pertama dari induk dasar (Grand Parent Stock, GPS).

c. Pendederan Pertama (P I) adalah pemeliharaan benih dari tingkat larva sampai ke tingkat benih ukuran 1-2 cm.

d. Pendederan Kedua (P II) adalah pemeliharaan benih tingkat ukuran 1-2 cm sampai tingkat benih ukuran 2-4 cm.

e. Pendederan Ketiga (P III) adalah pemeliharaan benih dari tingkat ukuran 2-4 cm sampai ke tingkat benih ukuran 4-6 cm.

f. Pendederan Keempat (P IV) adalah pemeliharaan benih dari tingkat ukuran 4-6 cm sampai ke tingkat benih ukuran 6-8 cm.

g. Pendederan Kelima (P V) adalah pemeliharaan benih dari tingkat ukuran 6-8 cm sampai ke tingkat benih ukuran 8-11 cm.