Senin, 19 Desember 2011

Mengenal Putsa (Apel India)

Budidaya Langka, Mudah Ditanam 


Mendengar nama negara India, pastilah tarian ekspresif yang ada dalam benak kita. Bagaimana jika rancaknya tarian sebagai ikon India ini digantikan oleh sosok buah apelnya yang khas? Mereka menyebutnya dengan putsa yang memiliki nama lain Jujube atau Ziziphus Mauritiana Lam. 

Dilihat sekilas, bentuknya menyerupai buah tomat yang masih muda (belum matang). Warnanya kehijauan, dengan tekstur yang halus. Baru ketahuan kalau masih satu jenis dengan apel, ketika sudah dibuka. Sebenarnya, jenis ini sama dengan apel kebanyakan. Hanya perbedaan ini ada pada bentuknya yang relatif kecil. 

Besar maksimalnya hanya segenggam tangan anak kecil (diameter 5 cm). Tak adanya lekuan di bagian pangkal tangkai buah, membuatnya berbeda dari apel kebanyakan. Untuk urusan rasa, putsa cenderung didominasi rasa manis dengan daging buahnya yang putih. 

“Rasa manis itu, membuat putsa banyak digemari. Itu berbeda dengan beberapa jenis apel, dengan rasa sedikit masam,” kata Dani penangkar tanaman hortikultura di Surabaya, 

Di Indonesia, jenis buah ini tergolong langka. Tak banyak yang memelihara jenis ini. Tak heran, jika untuk satu pot tanaman ini harganya bisa mencapai Rp 100 ribu. Bukan tak mungkin, apel jenis ini berpotensi untuk dilakukan budidaya. Siapa mengira, di balik kelangkaan apel ini ternyata ia tergolong mudah ditanam. Terlebih untuk kondisi tanah dan cuaca di Indonesia. 
Ekstra Panas 

India merupakan salah satu negara yang memiliki iklim tropis, sehingga tanaman yang tumbuh pun menyesuaikan dengan adaptasi lingkungan. Salah satunya adalah putsa. Karena iklim Indonesia juga memiliki kesamaan dengan India, maka bukan hal sulit bagi putsa untuk tumbuh. Ini karena putsa adalah jenis tanaman yang bisa tumbuh di dataran rendah. 

Melihat habitat tumbuhnya, apel India ini akan berkembang dengan maksimal apabila berada dalam kondisi lingkungan yang sesuai. Seperti halnya pemenuhan kebutuhan intensitas cahaya. “Semakin tinggi intensitas cahaya, tentu makin bagus pula hasilnya,” tandas Dani. 

Namun juga harus diimbangi dengan kebutuhan resapan air yang sesuai. Artinya, media ada dalam kondisi tidak terlalu kering ataupun basah. Pada musim kemarau, frekuensi penyiraman 6 kali dalam satu minggu. Sementara di musim hujan, dalam satu minggu cukup 2-3 kali penyiraman. 

Demikian dengan penerapan media tanam yang membutuhkan beberapa kombinasi bahan. Diantaranya tanah, sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:2:3. Kombinasi ini disesuaikan dengan karakter tanaman, dimana putsa gemar dengan media yang sifatnya porous, sehingga sirkulasi air dan udara tak mengganggu pertumbuhan akar. 

Pemupukan harus dilakukan dengan dosis tertentu. Kelebihan dan kekurangan dosis tentu berdampak buruk bagi tanaman. 


Jenis pupuk yang bisa dipilih memang beragam. Pastinya, tanaman buah butuh unsur hara makro, seperti N, P, K, dan unsur hara mikro macam Ca, Mg, dan S. Unsur hara mineral itu merupakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. 

Cermati pula waktu dan cara pemupukan. Begitu juga dengan pengawasan terhadap hama dan penyakit tanaman. Faktor pengganggu ini jangan sampai mengacaukan mimpi Anda untuk memanen buah. Bayangkan, betapa kecewanya saat tahu pertumbuhan tanaman buah terhambat oleh hama dan penyakit. [santi] 
Buah Sepanjang Masa 

Selain bentuk yang berbeda dari apel umumnya, kelebihan putsa juga ada pada frekuensinya dalam berbuah. Jenis ini tidak mengenal musim untuk berbuah. Itu berbeda dengan buah-buah lainnya – harus menunggu musim. Pantas, jika sosoknya dikenal juga dengan buah sepanjang masa. 

Siklus pertumbuhan putsa itu tergolong bandel dan rajin berbuah. Dengan pupuk seimbang, buah akan bermunculan. Sekitar 1-2 bulan kemudian, buah mulai bermunculan. Bakal buah yang muncul tak perlu dibesarkan semua. Biasanya, buah muncul berpasangan, maka pilihlah satu buah yang sehat untuk dibesarkan. 

“Penjarangan atau penyeleksian, mesti dilakukan saat buah seukuran kelereng. Artinya, 50 % dari munculnya buah, sebaiknya dibuang. Pada saat penjarangan buah, juga dilakukan pemangkasan cabang dan ranting kering,” ujar Dani. 

Berdasar umur tanaman, pemangkasan terbagi jadi tiga, yaitu pemangkasan pada pembibitan, pemangkasan tanaman yang belum menghasilkan, dan pemangkasan tanaman yang sudah menghasilkan. Sedang dilihat dari tujuannya, pemangkasan dibedakan jadi empat, yaitu pemangkasan bentuk, pemeliharaan, produksi, dan peremajaan. 

Daun yang menguning sebaiknya dibuang. Tujuannya, agar aliran makanan ke buah berjalan optimal. Perlakuan-perlakuan ini membuat pertumbuhan putsa jadi bongsor dan berbuah montok. Begitu juga dengan penggantian pot, dapat dilakukan bila ukuran tanaman semakin besar. Itu akan berdampak pada perakaran. 

Mengingat, akar memiliki peran penting dalam pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. Di habitat aslinya – India, putsa tidak ditanam dalam pot. Melainkan dibiarkan tumbuh di area terbuka, sehingga pertumbuhannya pun bisa maksimal. Alasan ditanam dalam pot merupakan salah satu alternatif, karena tak tersedianya lahan cukup luas untuk tumbuh. Terlebih bagi penggemar tanaman hortikultura yang tak memiliki lahan lebih. Proses tumbuh ini tak jadi soal bagi pertumbuhan tanaman. 

“Terpenting, kebutuhan tanaman dapat terpenuhi dengan baik, itu sudah cukup. Terlebih jika diimbangi dengan perlakuan yang sesuai dengan karakter tanaman. Dengan perawatan yang cermat, tanaman buah dalam pot (tabulampot) mampu menyedot perhatian siapa saja,” ungkap Dani. [santi] 

Klasifikasi Apel Putsa 

  • Kingdom : Plantae (tumbuhan) 
  • Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) 
  • Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji) 
  • Divisio : Magnoliophyta (berbunga) 
  • Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) 
  • Sub-kelas : Rosidae 
  • Ordo : Rosales 
  • Familia : Rosaceae (suku mawar-mawaran) 
  • Genus : Pyrus 
  • Spesies : Pyrus malus L

OBAT TRADISIONAL UNTUK MENGHILANGKAN PENYAKIT SESAK NAFAS

Penyakit sesak nafas seringkali menyerang orang-orang yang sudah lanjut usianya. Penyakit ini termasuk salah satu jenis penyakit yang sukar untuk disembuhkan dan sewaktu-waktu bisa kambuh, terutama pada saat musim dingin tiba.
Sedemikian menyiksanya gangguan sesak nafas ini, hingga menyebabkan badan penderita jadi kurus kering dan tidak dapat melaksanakan pekerjaan yang berat-berat. Dan adalah tindakan yang sangat terpuji apabila Anda mempunyai seorang tua yang menderita penyakit ini lalu berusaha untuk menoiongnya dengan menggunakan cara seperti tersebut di bawah ini:
1. Ambil kira-kira 10 batang serai, Anda cuci hingga bersih kemudian rebuslah dengan menggunakan 2 gelas air.
2. Sebelum mendidih, campurkan ke dalamnya gula merah secukupnya.
3. Dan bila sudah mendidih, jangan diangkat dulu akan tetapi tunggulah sampai airnya tinggal 1 gelas.
4. Setelah itu Anda angkat dari perapian dan dinginkan, kemudian disaring.
5. Minumlah air saringan tersebut kepada penderita sesak napas setiap hari 1 kali, yaitu pada tiap-tiap pagi sebelum makan apa-apa. Dengan cara ini, Insya Allah napas yang sesak akan jadi longgar.

MERAWAT ANGGREK SECARA MASSAL

Awali dengan Mengontrol Lingkungan
Tahukah Anda, kalau Indonesia merupakan salah satu negara dengan spesies anggrek bervarian? Ya, kurang lebih 5000 spesies jumlahnya. Namun banyaknya spesies anggrek di Tanah Air, tak diimbangi dengan pembudidayaann maksimal, sehingga pasokan anggrek dalam negeri minim. Itu terlihat dari sedikitnya orang yang bisa all out di dunia anggrek.
“Kebanyakan orang menyukai anggrek hanya pada saat berbunga. Setelah tanaman tak lagi mengeluarkan bunga, mereka memilih untuk tidak merawat,” kata Pembudidaya Anggek di Malang Jawa Timur (Jatim), Kabul.

Pantas, sedikit dijumpai pembudidaya anggrek di Indonesia. Rupanya, kini masyarakat hanya sebatas penikmat anggrek, bukan pecinta. Tak heran, jika spesies anggrek di Indonesia tak mengalami perkembangan.
Melihat jumlah spesies anggrek di Indonesia merupakan yang terbanyak kedua setelah Vietnam. Itu sudah seharusnya bisa jadi produsen anggrek dunia. Alasan klise tentang perawatan anggrek yang rumit, seakan jadi teka-teki misterius untuk dipecahkan, sehingga peluang untuk dijadikan prospek usaha pun sangat minim.
Namun hal itu dibantah oleh Kabul. Merawat anggrek tak seperti merawat bayi. Bahkan – kata Kabul – anggrek bisa jadi peluang bisnis yang menjanjikan. Mengingat, anggrek merupakan jenis tanaman yang berbunganya tak mengenal musim. Banyak orang yang menjulukinya sebagai bunga sepanjang masa. Memang benar adanya, karena kebutuhan pasokan bunga dunia juga melibatkan jenis anggrek. Terlebih, anggrek potong yang dimanfaatkan sebagai bunga rangkai.
“Malah saat ini, parcel tak lagi menggunakan makanan atau barang. Bunga pun bisa jadi alternatif. Pesona anggrek juga jadi salah satu pilihannya,” imbuh Kabul.
Melihat itu, apakah antara kebutuhan dan produksi anggrek di Tanah Air bisa berjalan seimbang? Bukan tak mungkin, Indonesia bisa jadi negara pemasok anggrek dunia. Tertarik untuk mengembangkan potensi alam satu ini? Berikut kisi-kisi yang bisa dijadikan landasan sebelum menerjuni dunia anggrek.
Ketahui Karakter
Ini merupakan hal mutlak untuk dilakukan sebelum menekuni budidaya anggrek. Caranya, dengan memperbanyak referensi tanaman setiap jenisnya. Mengingat, masing-masing jenis anggrek memiliki karakter berbeda. Itu bisa dilihat dari faktor lingkungan hidup ataupun keadaan fisiologis tanamannya.
Setiap jenis anggrek memiliki kelebihan dan kekurangan. Terlebih, jika harus pindah lingkungan hidup. Otomatis, tanaman akan berusaha untuk melakukan adaptasi dengan lingkungan baru. Sebab, anggrek habitat aslinya terdapat di hutan tropic. Jadi, sebenarnya bukan hal sulit dalam hal perawatan. Bahkan perlakuan yang terlalu berlebihan, membuat tanaman tak tumbuh dengan optimal.
Kontrol Lingkungan Tumbuh
Jika berbicara tentang budidaya, tentu akan berkaitan dengan jumlah massal. Tentu berbeda dengan cara merawat anggrek dalam jumlah sedikit. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat merawat anggrek dalam jumlah massal. Misalnya, kontrol lingkungan yang diterapkan untuk tanaman, yaitu kelembaban, pencahayaan, dan intensitas angin.
Untuk kelembaban, masih kata Kabul, usahakan agar tanaman tetap dalam kelembaban yang terjaga. Maksudnya, kelembaban efektif bagi anggrek adalah tak terlalu basah ataupun kering. Kelembaban ini bisa dilihat dari media tanam, dimana jika media dalam keadaan terlalu basah akan berdampak pada kebusukan akar.

Demikian halnya jika media terlalu kering, membuat tanaman dehidrasi (kekurangan mineral). Bisa dengan penyiraman yang dilakukan satu kali dalam dua hari ataupun spray untuk setiap hari. Teknik ini bisa dilakukan saat musim kemarau.

Dengan membasahi bagian shading net saat musim kemarau, dijadikan alternatif agar tanaman tetap ada dalam keadaan segar dan teduh. Sedangkan untuk musim hujan, sebaiknya intensitas penyiraman sedikit dikurangi. Itu dilakukan untuk menghindari tingkat kelembaban berlebih.
Selesai itu, teknik pencahayaan untuk anggrek pun perlu diperhatikan. Penggunaan shading net dan plastik ultraviolet (UV) bisa jadi alternatif untuk mengontrol kapasitas sinar matahari yang masuk. Usahakan untuk memberi jarak shading net dengan tanaman – antara 1-2 meter dari bagian atas tanaman. Itu untuk menghindari sengatan matahari yang masuk dan berkaitan dengan pertumbuhan anggrek secara keseluruhan.
Sama halnya dengan pengaturan intensitas angin. Boleh percaya atau tidak, pada dasarnya pertumbuhan anggrek tergantung pada kapasitas angin yang masuk dan menerpa tanaman, dimana angin yang terlalu kencang merupakan salah satu penyebab anggrek tak kunjung mengeluarkan bunga. Idealnya, intensitas angin yang masuk tidak terlalu kencang. Namun bukan juga berarti tanaman tak boleh terkena angin sama sekali.


“Sebaiknya angin yang masuk landai atau sepoi. Maka, penggunaan shading net di bagian tepi berfungsi sebagai penyaring jumlah angin yang masuk,” ujar Kabul.
Teknik Penempatan

Meski terdengar sepele, penempatan untuk tumbuhnya anggrek juga memberi pengaruh yang signifikan bagi perrtumbuhan anggrek. Terlebih, untuk penempatan anggrek dalam jumlah besar, tentu akan memakan banyak tempat. Ada beberapa alternatif dalam hal penempatan tanaman dan tak boleh dilakukan secara sembarang.
Pertama, dengan meletakkan anggrek di bawah (lantai/tanah). Bagi sebagian orang (khususnya yang mengerti kriteria hidup anggrek), cara pertama ini terbilang kontroversi. Alasannya, tingkat kelembabannya sangat tinggi dan akan mengganggu pertumbuhan anggrek. Mengingat, kebanyakan penempatan anggrek ada dalam keadaan digantung atau jauh dari tanah. Namun alasan ini bisa diminimalisir dengan tetap menempatkan tanaman di bawah yang sudah dilapisi plastic, sehingga kelembaban tetap terjaga.
Kedua, dengan membuat rak-rak yang bisa dibuat dengan model barisan rata atau bentuk piramida. Penting diperhatikan jika menggunakan rak model piramida, yaitu membentuknya dengan pola zig-zag, dimana antara rak sisi kanan dan kiri tak sejajar. Itu dilakukan agar sinar yang masuk bisa merata. Sedangkan untuk penempatan jenis anggrek, juga perlu diperhitungkan. Untuk anggrek jenis dendrobium, letakkan pada rak posisi paling atas. Rak tengah untuk jenis phalaenopsis dan vanda letakkan paling bawah. 

Melihat Perputaran Produksinya
Tak bisa dipungkiri kalau sebenarnya komoditas produksi bunga Tanah Air berlimpah ruah. Berdiri di hamparan tanah yang subur, jadi bukti Ibu Pertiwi ini memiliki keragaman hayati. Anggrek jadi contoh kecil dari berjuta-juta kekayaan floranya. Beribu-ribu spesies anggrek yang ada di Indonesia sudah lebih dari cukup untuk dijadikan modal negeri ini sebagai produsen anggrek dunia.
Dari data on-line Dirjen Hortikultura Indonesia tahun 2006-2007, permintaan bunga hias di pasar dunia cenderung meningkat setiap tahun. Meski saat ini negara produsen sekaligus pengekspor bunga hias masih didominasi oleh Belanda yang terkenal dengan bunga tulipnya, pengembangan agribisnis tanaman bunga hias sudah tersebar ke berbagai negara di belahan dunia, seperti Thailand, Singapura, India, dan Indonesia.
Seperti halnya negara-negara produsen bunga lainnya, Indonesia juga berpeluang besar dalam mengembangkan agribisnis sub sektor tanaman hias, baik untuk memenuhi permintaan dalam maupun luar negeri. Itu ditunjang dengan adanya kenyataan bahwa penggunaan bunga potong untuk berbagai keperluan dalam negeri masih mendominasi.
Bahkan di masa mendatang, diramalkan pertumbuhan tingkat permintaan bunga potong di Indonesia bakal meningkat 10% setiap tahun.
Daya serap dan permintaan bunga potong paling potensial adalah masyarakat di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, dan dan Medan. Namun disayangkan, tingginya permintaan bunga tak dibarengi dengan jumlah penangkar anggrek saat ini. Jika diprosentase, Indonesia hanya memiliki sekitar 30% penangkar dari jumlah total spesies anggrek yang tersedia.
Memang ironis, jika Indonesia harus jadi produsen anggrek dunia untuk saat ini. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk bersama mewujudkan cita-cita inilah yang jadi kendala dan dilema tersendiri. Namun tahukah Anda, kalau anggrek bisa jadi aset budidaya yang mendatangkan potensi? Percaya atau tidak, di balik keelokan bunga yang bisa dijumpai sepanjang musim ini, anggrek menyimpan peluang usaha menjanjikan. Ingin tahu perhitungan dengan menjadikan anggrek sebagai lahan bisnis dan sekaligus melestarikan spesiesnya?
Pra Produksi
Sebelum melangkah lebih jauh untuk menjadikan anggrek sebagai peluang usaha, hal yang berkaitan dengan kualitas produk sebaiknya perlu diperhatikan. Untuk membuat tampilan anggrek tampil prima dalam skala massal saat dijual sudah kita bahas di Tabloid Gallery edisi sebelumnya (edisi 18, red).
Intinya agar nilai jualnya tinggi, kualitas barang pun perlu diperhitungkan, baik itu dengan tujuan dijual dalam fase bibit ataupun tanaman sudah berbunga,” kata Penangkar dan Pebisnis Anggrek di Malang Jawa Timur (Jatim), Kabul.
Di dalam pengembangan komoditi tanaman anggrek, terdapat kendala-kendala yang menghambat keberhasilan secara umum, yaitu:
1. Untuk mendapatkan produk yang berkualitas harus terpenuhi teknologinya, yaitu mulai dari teknik budidaya, seperti penggunaan benih yang sehat, penanaman, pemeliharaan, penanganan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) sampai pasca panen.
2. Keterbatasan informasi pasar dan belum adanya kepastian harga (harga selalu berfluktuasi) terkadang menghambat perkembangan produksi dan luas areal.
3. Kurangnya modal yang tersedia serta perlu adanya pembinaan untuk lebih meningkatkan produksi sesuai dengan standar kualitas yang diinginkan pasar.
Dimana untuk perawatan dan budidaya anggrek juga telah dibahas di Tabloid Gallery edisi 18 lalu. Sehubungan dengan hal tersebut, untuk menjamin suplai komoditi tanaman anggrek, maka perlu dikembangkan sistem budidaya yang sehat sesuai agro ekosistem, seperti menanam dan merawat anggrek sebagai keperluan komersial, maka perlu mempertimbangkan segmentasi pasarnya.
Misalnya, untuk tujuan dalam skala kecil, menengah atau besar. Selain persiapan infra-struktur yang lengkap, seperti bibit, lahan bangunan, serta sarana dan prasarana penunjang lainnya – diperlukan juga orientasi yang jelas pada jenis produk yang akan diproduksi. Beberapa produk yang dihasilkan dari budidaya anggrek skala komersial antara lain bibit, anggrek dalam pot, dan anggrek untuk keperluan bunga potong.
“Untuk kebutuhan komersial alangkah baiknya dipilih jenis anggrek yang laku dan memiliki nilai tinggi di pasaran, seperti dendrobium, cattleya atau phalaenopsis,” ujar Kabul. [santi]
Analisis Budidaya Anggrek Massal
Setelah kita memahami karakter setiap anggrek yang hendak kita budidaya, barulah mulai memikirkan langkah perhitungan-perhitungan. Berikut perkiraan analisis budidaya bunga anggrek ala Kabul dari Malang (disini, kita menggunakan jenis dendrobium), yaitu:
Pengeluaran Panen Pertama
1. Sewa Lahan (luas 1,25 m x 12 m)/tahun Rp 2.000.000
2. Biaya Produksi
a. Bibit
 Bibit 8 botol @ x Rp 40.000 Rp 320.000
 Akar Pakis 5 ikat (42 lempeng/ikat) Rp 75.000
b. Perlengkapan
 Arang 80 kg @ Rp 1.250 Rp 100.000
 Pot ukuran 15 cm 400 bh x @ Rp 750 Rp 4.500.000
 Gandasil 2 pack @ x Rp 7.500 Rp 15.000
 Kerangka 1 unit bambu Rp 150.000
c. Pupuk
 Furadan Rp 20.000
 Azodrin 1 botol Rp 12.500
 Pupuk Urea 5 kg x @ Rp 2.000 Rp 10.000
 NPK 2,5 Kg x @ Rp 2.000 Rp 5.000 (+)
Total Biaya Produksi Rp 7.207.500
Pendapatan Panen Pertama
Untuk satu pohon atau pot bisa menghasilkan bunga sebanyak 2-3 tangkai bunga, dimana anggrek dalam pot mulai berbunga pada umur 3-5 bulan dan jadi bunga potong pada umur 6-7 bulan dengan masa panen optimal 4 kali setiap tahunnya. Pada panen ke 2-4 di atas umur 8 bulan, dalam satu tangkai bunga terdapat 10-15 kuntum bunga. Harga 1 kuntum bunga mencapai Rp 750 sampai Rp 1000.
 3 tangkai x 10 kuntum x 400 pot x Rp 750 Rp 9.000.000
Keuntungan Panen Pertama
Total Pendapatan Rp 9.000.000
Total Biaya Produksi Rp 7.207.500 (-)
Total Keuntungan Rp 1.792.500
Nah, perhitungan tersebut berlaku apabila menjualnya dalam bentuk kuntum bunganya saja. Itu berbeda jika alternatif penjualannya juga dilakukan ketika tanaman masih berada pada fase bibit. Terlebih, jika tampilan anggrek dijual dalam kondisi lengkap dengan batang dan pot bunganya. Tentu itu akan berdampak pada keuntungan yang berlipat. Hal ini dikarenakan harga satu pohon anggrek (dewasa berbunga) mulai dari Rp 50 ribu. Alternatif yang menguntungkan, bukan?
sumber : majalah tanaman hias di tahun 2008



Selasa, 06 Desember 2011

Teknik mendapatkan dompolan bunga euphorbia


Video by WIENA19

Bunga-bunga menyelimuti setiap tajuknya. Bentuk bunga unik dan warna ngejreng menambah daya tarik pesonanya. Untuk mendapatkan dompolan bunga euphorbia nan cantik itu ada tekniknya.


Kecantikannya semakin menonjol bila didukung dengan sosok tanaman yang seluruhnya optimal, mulai dari batang kokoh, cabang kompak, dan susunan bunga yang bagus. Wajar bila penampilannya mengundang perhatian, sehingga banyak yang meminatinya.

Apalagi ada kepercayaan, keluarnya bunga dapat menggambarkan nasib dan keberuntungan si pemiliknya. Ingin euphorbia Anda berbunga semarak? Mudah, lakukan 6 P, yaitu pemangkasan, penyiraman, pemupukan, penempatan, penyiangan, dan pengendalian penyakit.

A. Pemangkasan

Pemangkasan dapat dimulai sejak euphorbia dalam masa penyuburan. Tujuannya, untuk membentuk tajuk yang seimbang, sehingga terlihat cantik dan mengurangi penguapan. Patokannya mudah, cabang-cabang yang tepat berada di sisi kiri, kanan, depan, dan belakang sebaiknya dibiarkan, selain itu dibuang saja. Nantinya, tunas baru bermunculan di setiap cabang, sehingga tampak lebih rimbun. Waktu yang pas untuk pemangkasan adalah usai penyuburan dan pembungaan pertama kali. Tepatnya di akhir masa pembungaan pertama. Bunga tua juga harus dipotong untuk memunculkan bunga baru. Bunga mekar selama dua bulan. Setelah itu, warnanya pudar, kusam, dan akhirnya layu.

B. Penyiraman

Agar euphorbia tumbuh prima dan selalu berbunga lebat, sebaiknya deprogram penyuburan-pembungaan-penyuburan-pembungaan, demikian seterusnya. Umumnya, fase penyuburan berlangsung 1-1,5 bulan. Sedangkan pembungaan biasanya berlangsung selama 3-4 bulan. Setelah menjalani masa penyuburan selama 1,5 bulan, sosok euphorbia telah bersalin rupa dengan percabangan banyak dan daun yang rimbun. Itulah saat yang tepat untuk memasuki periode berikutnya, yaitu pembungaan. Saat itu, tanaman membutuhkan air dalam jumlah yang memadai. Penyiraman dapat diberikan setiap hari dengan memakai sprayer atau gembor, agar cipratan air yang keluar halus, sehingga tidak merusak daun dan memuntahkan sebagian media tanamnya.

C. Penempatan

Penyinaran penuh ternyata merangsang euphorbia berbunga lebat. Untuk itulah, sebaiknya letakkan pot euphorbia di tempat terbuka dengan sinar matahari penuh dan sirkulasi udara di sekitarnya bagus. Hasilnya, sejak dipindahkan selama seminggu akan muncul bunga-bunga di sela-sela tajuknya. Sebulan kemudian, bunga-bunganya muncul serempak menyesaki setiap daunnya.

D. Penyiangan

Senantiasa menjaga kebersihan adalah salah satu cara agar euphorbia tumbuh subur dan berbunga lebat. Pasalnya, rumput atau tanaman liar lain yang biasanya tumbuh di media tanam akan menjadi pesaing euphorbia dalam penyerapan hara. Bahkan tanaman itu bisa jadi vector atau tempat bersembunyi hama dan penyakit, seperti serangga atau kutu. Untuk itulah gulma harus dicabut, sementara daun yang rontok sebaiknya segera dibuang.

E. Pemupukan

Agar berbunga lebat, euphorbia membutuhkan unsure hara dalam jumlah memadai. Ketika tanaman dipindahkan ke tempat terbuka, berikan pupuk majemuk dengan kadar N rendah, sementara P dan K tinggi. Merknya bermacam-macam, seperti Growmore, Hyponex atau Gandasil. Dosisnya 1 gram/liter/tanaman. Aplikasi pupuk seminggu sekali dengan cara mengocorkan ke media tanam. Perlakuan ini terus dilakukan seminggu sekali. Tingginya kadar P dan K merangsang euphorbia untuk memunculkan bunga. Baru seminggu disemprot pupuk, tanaman ini pun sudah mulai berbunga. Cara praktis dengan menaburkan pupuk lambat urai (slow release), seperti Dekastar, Magamp, dan Osmocote sebanyak 1-2 sendok makan setiap 3 bulan sekali. Dengan cara ini tanaman dapat menyerap hara setiap saat.

F. Hama dan Penyakit

Euphorbia sebenarnya tanaman hias yang bandel dan relatif jarang terserang hama dan penyakit. Meski demikian, tak ada salahnya Anda waspada dengan kehadiran kutu putih (white flies, mealy bug) dan thrips, karena kehadirannya membuat tanaman ini malas berbunga. Untuk memberantasnya dapat menggunakan insektisida, seperti Metindo, Pegasus, dan Agrimex. Frekuensi dan dosis sesuai petunjuk di labelnya. Penyakit lain yang perlu diwaspadai adalah bakteri Erwinia, penyebab busuk akar yang biasanya muncul di musim hujan. Untuk mencegahnya, lakukan penyemprotan pestisida secara berkala.[ary]

Penanaman Tepat Untuk Euphorbia


Kunci keberhasilan merawat euphorbia ada pada media tanam yang baik. Dengan media tanam yang baik, akan membuat tanaman ini tumbuh subur, sehat, akar kuat, batang kokoh, dan rajin berbunga. Untuk itulah, media tanam harus mengandung unsur hara dalam jumlah memadai. Pot sebagai wadah tanam sebaiknya dipilih yang memiliki drainase baik. Setelah itu, baru memahami cara penanaman yang benar. Berikut cara menanam euphorbia dengan benar
  1. Siapkan pot yang ukurannya sepadan dengan besar-kecilnya euphorbia. Pastikan kondisi pot bersih dan memiliki lubang di bagian dasar untuk membuang kelebihan air.
  2. Masukkan beberapa potongan styrofoam atau pecahan genting yang jumlahnya asal menutup lubang, karena tujuannya untuk mencegah air tidak menggenang di dasar pot.
  3. Isi pot dengan formulasi media tanam yang sudah dibuat, jumlahnya kira-kira separuh pot. Taburkan butiran pupuk lambat urai sebanyak setengah sendok makan.
  4. Ambil bibit euphorbia, lalu bersihkan akar-akarnya. Setelah itu, tanaman siap ditanam.
  5. Masukkan euphorbia ke media tanam dengan posisi tegak. Pastikan akar menyebar merata dan tidak saling melilit atau menumpuk satu dengan yang lainnya.
  6. Isi media tanam hingga penuh, lalu siram air sampai media tanam terlihat padat. Letakkan bibit di lokasi teduh dan aman dari gangguan.

Selamat mencoba

Senin, 05 Desember 2011

Adenium Bonggol, Layak Dikoleksi

Bonggol-bonggol adenium itu terlihat seksi. Laiknya model yang berjalan di atas catwalk, bonggol indah itu pantas dijuluki tanaman hias yang eksotis.


Demam adenium masih merajalela. Tanaman yang akrab disapa kamboja Jepang ini memang tak ada matinya, masih saja menjadi primadona. Apalagi jika ia punya bonggol yang indah dan meliuk.

Wajar bila adenium masih digemari sejumlah penghobi. Harganya bisa ratusan ribu, bahkan jutaan per pot. Apalagi bila ia memiliki bonggol indah yang meliuk, menekuk, membulat, dan membengkak, harganya bisa mencapai Rp 2 – 3 juta per pot. Anda pun bisa menciptakan bonggol-bonggol indah itu sendiri. Yang penting Anda sabar dan tekun.

Adenium (Plumeria Acuminate Varadenium) dikenal juga dengan nama kamboja Jepang. Namun, kendati ada embel-embel ‘Jepang’ di belakang namanya, ia bukan dari Jepang, melainkan Afrika. Di tanah asalnya, adenium hidup di padang pasir. Toh, ia mampu berbunga lebat. Warna bunganya pun warna-warni, sementara akarnya membesar, membentuk bonggol yang tak kalah menawan.

Bibit dari biji akar adenium membesar bak umbi. Bentuknya meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri, saling berhimpitan, sehingga terlihat artistik. Membesarnya akar hingga berupa bonggol tergantung umur dan asal bibit. Bonggol akan lebih cepat nongol dan artistik bila ia berasal dari bibit biji.

Pada usia 2 – 3 bulan sejak penyemaian biji, pangkal batang tanaman sudah kelihatan membesar. Pangkal batang tersebut berbentuk bulat seperti bawang merah. Cara stek atau cangkok, kendati bisa juga membentuk bonggol, butuh waktu cukup lama. Itupun hasilnya kurang bagus.

Buah adenium terletak di ujung tunas, tumbuhnya berpasangan (dua buah) dengan bentuk buah pipih panjang. Warnanya hijau ketika muda, lalu berubah coklat ketika dewasa. Di dalam buah inilah, terdapat biji-biji. Satu buah adenium berisi sekitar 20 – 40 biji. Biji-biji inilah yang kelak akan disemaikan.

Ikuti beberapa langkah agar adenium berbonggol artistik :
Buang bulu-bulunya, lalu kering dan anginkan selama sekitar 2 jam.
Siapkan media tanam berupa pasir kasar, arang sekam, dan pupuk kandang (1:1:1). Media harus porous (tidak mengikat air). Lalu, campurkan merata dan masukkan ke dalam polybag atau pot.
Buat lubang tanam sedalam 0,5 cm persis di tengah-tengahnya. Setelah itu, masukkan satu biji untuk satu polybag. Posisi biji horizontal. Lalu tutup dengan media tanam.
Semprot air merata dan letakkan di tempat teduh. Jaga jangan sampai media tanam kering. Rajinlah menyemprot air. Lazimnya, setelah 2 minggu sejak penyemaian, akan tumbuh tunas.
Setelah 3 bulan, pindahkan bibit adenium ke pot. Anda tinggal menunggu hasilnya. Selamat mencoba.

Pangkas bak Bonsai

Memangkas adenium mutlak hukumnya. Jika tidak, bisa-bisa cabang tumbuh memanjang tak beraturan, kurus, dan enggan berbunga. Pemangkasan akan mempercantik penampilan tanaman, selain juga agar rajin berbunga, sekaligus memutus serangan hama penyakit.

Usai dipangkas, bonggol pun akan membengkak dan meliuk-liuk, berbatang pendek, pertumbuhan tunas dan daun menjadi kompak. Adenium pun akan mirip bonsai.

TIPS PERAWATAN AKUARIUM



TIPS PERAWATAN AKUARIUM

Perawatan rutin akuarium tentu saja akan bervariasi, tergantung pada
sistem yang digunakan, penghuni yang diperlihara dll. Oleh karena itu,
perawatan harus selalu disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan
tersebut. Berikut hanyalah beberapa panduan umum dasar dalam perawatan
akuarium secara rutin.

Perawatan Harian

*Beri makan ikan setidaknya 2 kali sehari, terutama apabila
ikan-ikan tersebut tergolong pada ikan yang memerlukan energi
tinggi. Sesuaikan pemberian pakan untuk ikan lain, dan invertebrata
*Periksa kesehatan penghuni akuarium. Pindahkan dan rawat ikan yang
tampak sakit ke dalam akuarium karantina
*Periksa apakah terdapat tanda-tanda ikan akan memijah, tempatkan
ikan tersebut pada tempat pemijahan yang sesuai. Apabila ditemukan
burayak pindahkan segera burayak tersebut ke tempat lain.
*Periksa temperatur akuarium
*Periksa kesehatan jenis-jenis ikan malam pada malam hari dan
berikan pakan ikan tersebut sesaat sebelum atau setelah lampu
dimatikan.
*Matikan lampu akurium sesaat sebelum lampu ruangan dimatikan atau
sebelum cahaya alam menjadi gelap

Perawatan Mingguan

*Puasakan ikan selama satu hari (jangan lakukan hal ini pada ikan
yang sedang/akan memijah atau pada burayak dan anak-anak ikan)
*Periksa heater, termostat. Cermati apakah ada atau tidak tanda
kerusakan
*Periksa pH, kesadahan, kadar garam (untuk akuarium laut), kadar
amonia dan nitrit. Lakukan koreksi apabila dijumpai parameter yang
menyimpang secara perlahan-lahan
*Periksa cadangan pakan ikan, filter, dan peralatan lainnya

Perawatan Dua Mingguan

*Matikan aerasi (jangan lakukan untuk akuarium laut)
*Secara perlahan aduk permukan lapisan pasir/gravel pada akuarium anda
*Bersihkan algae pada kaca
*Biarkan kotoran dari kaca dan permukaan lapisan pasir yang
diganggu tadi mengendap
*Siphon kotoran bersama dengan sekitar 25 persen air akuarium
*Ganti air tersebut dengan air yang telah diendapkan sebelumnya,
usahakan agar pH, kesadahan, dan temperatur air tambahan ini sama
dengan air akuarium
*Nyalakan kembali aerasi

Perawatan Tiga Mingguan atau Bulanan

*Bersihkan media filter mekanik
*Rendam dan bilas media filter biologi dengan menggunakan air
akuarium (Jangan cuci dengan bahan pembersih, direbus/disiram air
panas, atau menggunakan bahan kimia lain. Hal ini akan menyebabkan
bakteri filtrasi mati sehingga filter biologi menjadi tidak
berfungsi, sampai bakteri baru tumbuh kembali di media tersebut)
*Apabila anda menggunakan filter under gravel, bebaskan sementara
pipa out let dari aerator atau head pump. Bersihkan bagian tersebut
*Melalui pipa out let tersebut masukan pipa siphon dan cobalah
menyiphon kotoran (mulm) yang ada dibagian bawah filter under gravel.
*Bersihkan batu aerasi
*Periksa diafragma dan pompa aertaor
*Bersihkan pipa input udara pada aerator
*Periksa peralatan penerangan, terutama sambungan kabel,
terminal-terminal dll
*Singkirkan bagian-bagian tanaman yang mati, dan lakukan
pemangkasan apabila diperlukan

Tips Cara Jitu Semai Biji Adenium

Video by andriantoh
denium merupakan jenis tanaman hias yang mudah tumbuh. Lihatlah pada kedua ujung biji terdapat bulu yang mampu membawanya terbang dan jatuh di tanah. Ia bisa tumbuh segera dengan mudahnya.


Jika Anda ingin mendulang sukses dalam menyemai benih, kuncinya adalah penggunaan media yang steril dan berkualitas baik. Jika Anda tidak yakin dengan media yang digunakan, sebelumnya sterilkan dengan cara mengukus dan menyemprotkan fungisida serta menjemurnya. Berikut ini langkah-langkah menyemai biji adenium :
  • Rendam biji dalam air sekitar 10 menit.
  • Siapkan media dalam pot dengan komposisi sekam bakar : cocopeat = 1 : 1 (kalau tidak ada cocopeat, bisa diganti dengan serutan kayu halus) atau cukup dengan sekam bakar saja.
  • Isi pot dengan ¾ media.
  • Letakkan biji-biji dalam posisi terbaring, dengan jarak masing-masing sekitar 1 cm. Pot ukuran diameter 20 bisa untuk menanam sekitar 100-150 biji.
  • Taburi biji dengan sedikit media asal terbenam ( biji jangan terbenam terlalu dalam).
  • Semprot dengan air, dengan siraman atau spray halus.
  • Tutupi plastik transparan dan letakkan di tempat teduh (tidak boleh terkena panas matahari).
  • Semprot dengan air tipis-tipis setiap hari atau tergantung kondisi media agar kelembaban tetap terjaga. Kira-kira seminggu kecambah akan muncul.
  • Setelah tumbuh daun, plastik penutup diangkat, tetap letakkan di tempat teduh dan selalu disiram dengan cara spray.
  • Setelah 2 bulan [daun berjumlah 6 hingga 8] pindahkan setiap pohon ke polybag kecil atau gelas air mineral, dengan komposisi media adalah sekam bakar : pasir Malang = 1 : 1 (dan tambahan ¼ bagian pupuk kandang yang telah difermentasi atau bukan kotoran ternak baru). Kalau tidak ada pasir Malang (pasir kasar) bisa diganti dengan membuat remahan dari batu bata yang ditumbuk kasar kira-kira berdiameter 1-2 mili (jangan terlalu halus) untuk menjaga sirkulasi udara dalam media.
  • Sebelum memasukkan media, bagian bawah polybag beri potongan-potongan stereofoam agar air tidak tertahan di bawah (akan menyebabkan busuk).
  • Letakkan tanaman di tempat yang panasnya sedang terkena matahari beberapa jam sehari. Secara bertahap setelah agak besar dipindahkan ke tempat yang kena matahari penuh